Sulitnya Konsolidasi Pekerja

3 May

Sumber: Kompas Cetak, Senin – 2 Mei 2011

Era keterbukaan politik dan membesarnya lapis sosial kelas pekerja belum mampu berakumulasi dalam kekuatan politik yang efektif. Alih-alih mengonsolidasi potensi menjadi kekuatan sosial politik yang berpengaruh, malah sebagian kaum pekerja masih dicemaskan oleh kegamangan menghadapi masa depan.

Seperti halnya tokoh buruh, Muchtar Pakpahan, yang cemas dan jatuh bangun mendirikan dan memelihara eksistensi partai buruh, sebagian besar buruh (pekerja, karyawan, pegawai) sebenarnya juga cemas menghadapi masa depan dan masa tua mereka. Hasil jajak pendapat Kompas minggu lalu menunjukkan sebagian besar responden dengan latar belakang berbagai profesi pekerjaan mencemaskan berbagai hal dari pekerjaan mereka saat ini. 

Mereka yang berstatus pekerja tetap menilai kejelasan sistem penggajian dan beragam tunjangan yang mereka nikmati sudah cukup memadai. Namun, hak-hak kesejahteraan lainnya yang diterima dari perusahaan dinilai belum memberikan jaminan rasa aman. Hal itu terutama terkait jika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), uang pesangon, dan pensiun. Lebih dari separuh responden menyatakan tidak puas terhadap tempatnya bekerja, terutama dalam kebijakan PHK dan jaminan pensiun.

Apabila kecemasan para pekerja tetap tampak cenderung terpusat pada jaminan kesejahteraan di luar sistem penggajian, bagi pekerja tidak tetap, honorer, atau kontrak, situasi tampak mencemaskan dari segala aspek. Dari pengakuan responden, mereka cenderung mempertanyakan kebijakan perusahaan dari seluruh aspek. Mulai dari sistem pengupahan, pemberian tunjangan, kebijakan PHK, hingga penanganan usia pensiun. Bagi mereka, sulitnya menagih janji dan tuntutan terutama disebabkan sejumlah perusahaan tidak memiliki aturan tertulis.

Kondisi keterabaian itu makin menjadi-jadi jika indikator kehadiran negara bagi pekerja diluaskan bagi kalangan pekerja sektor nonformal. Sektor ini berjalan nyaris tanpa merasakan jaminan perlindungan negara. Padahal sektor ini yang mencakup antara lain buruh tani, buruh nelayan, buruh migran (TKI), hingga pembantu rumah tangga. Jumlahnya masif di berbagai pelosok. Kelompok ini memberikan nilai tambah dan imbal hasil sangat besar bagi negeri ini. Namun, di mata mayoritas responden, kelompok ini dinilai yang paling tidak diperhatikan oleh negara.

Karut-marut dunia ketenagakerjaan tidak terlepas dari kelalaian negara memberikan jaminan masa depan bagi pekerja. Padahal sedikitnya ada 32,5 juta penduduk berusia minimal 15 tahun yang bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai belum termasuk di luar kategori itu, tetapi bekerja dan mendapatkan upah/imbalan. Dalam survei ini, tiga dari setiap lima responden mengaku tidak puas terhadap upaya negara dalam menangani persoalan ketenagakerjaan, terutama dalam hal perlindungan hukum, keselamatan kerja, dan penetapan upah minimum.

Satu hal yang banyak menyedot perhatian adalah penetapan batas kebutuhan hidup layak kebijakan upah minimum regional (UMR). Penetapan UMR setiap tahun hampir dipastikan memicu gelombang unjuk rasa ketidakpuasan di berbagai daerah. UMR kenyataannya tidak memenuhi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Bahkan salah satu upaya terobosan yang dilakukan negara melalui pembahasan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial pun tampak tersendat-sendat.

Jika melihat rapuhnya kehidupan pekerja dari sisi jaminan kesejahteraan oleh perusahaan maupun jaminan perlindungan oleh negara, praktis kelompok ini tak memiliki katup pengaman. Padahal, pengalaman negara-negara yang pernah melampaui industrialisasi menunjukkan, munculnya kelas pekerja yang tangguh bisa memberikan sumbangan berarti bagi kekokohan sistem demokrasi pada masa depan.

Kerapuhan itu ditunjukkan mulai dari lingkup terkecil, yakni kemampuan berserikat di tempat kerja. Tiga dari setiap lima responden berprofesi pekerja mengaku tidak memiliki organisasi pekerja di tempat mereka bekerja. Apa persoalannya? Ternyata sebagian besar terkait dengan soal minat berserikat, selain berbagai hal yang sifatnya hambatan birokratis. Hanya sebagian kecil atau 28 persen responden yang terlibat dalam serikat pekerja dengan tujuan ideal, memperjuangkan kesejahteraan dan hak berkumpul kaum pekerja.

Menengok sejarah, kondisi demikian sungguh berbeda dengan pembentukan serikat pekerja masa lalu yang secara aktif dihidupi kalangan pekerja; antara lain karena terilhami gerakan sosial menghadapi imperialisme. Pada awal kemerdekaan semangat itu terlembagakan dalam dua puluhan federasi buruh yang pada tahun 1973 oleh pemerintah ”dipaksa” bersatu dalam wadah Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI).

Tak terhindarkan, dialektika negara dan kaum buruh di Indonesia masih kental dibayangi kisah masa lalu gerakan buruh yang ditunggangi kepentingan politik kiri. Akibatnya rezim penguasa tampak selalu berupaya mengendalikan buruh dengan berbagai cara, baik di ranah perundang-undangan maupun di tingkat praktis. Pada era 1980-an upaya itu dilakukan dengan mengubah FBSI menjadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan menghaluskan istilah “buruh” menjadi ”pekerja”.

Besarnya kesenjangan jumlah tenaga kerja dibandingkan dengan pekerjaan yang tersedia ikut mempersulit elevasi politik lapis sosial kelas pekerja. Tengok saja tingkat pengangguran terbuka yang jumlahnya 7,4 persen pada tahun 2010 (BPS). Alhasil peringatan Hari Buruh Sedunia setiap 1 Mei di Indonesia tampak baru sebatas menggedor kesadaran terhadap isu perbaikan kesejahteraan dan survival ekonomi kaum buruh ketimbang mengarah pada konsolidasi menjadi sebuah kekuatan politik yang disegani (Indah Surya Wardhani ; Litbang Kompas)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 40 other followers

%d bloggers like this: