Archive | APINDO RSS feed for this section

Pabrik Sepatu Kena Imbas Aksi Buruh – Pabrik Bata Stop Berproduksi

2 Nov

Jumat, 2 November 2012

Jakarta, Kompas – Pabrik sepatu bermerek global terkena imbas unjuk
rasa buruh menuntut penghapusan sistem kerja alih daya. Proses produksi
sepatu seperti Adidas, Nike, dan Bata pun terganggu meski mereka
mengklaim tidak memakai pekerja alih daya sesuai syarat pemilik merek.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Sofjan Wanandi, Ketua Apindo Anton J Supit, dan Ketua Dewan Pembina
Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Harijanto di Jakarta, Kamis
(1/11). Mereka menyesalkan sikap aparat kepolisian yang mengabaikan aksi
anggota serikat buruh yang melanggar ketentuan undang-undang.

”Kalau mereka tidak bisa berproduksi dan harus relokasi ke luar
negeri, kita yang rugi. Investor sepatu, kalau sudah pindah, akan sulit
ditarik kembali sehingga pemerintah harus serius mengatasi masalah
penegakan hukum yang sangat lemah belakangan ini,” ujar Sofjan.

Para duta besar negara anggota Uni Eropa di Indonesia, dalam pertemuan
dengan Kompas di Jakarta, Kamis, juga mempertanyakan bagaimana aksi
buruh ini bisa terus berjalan tanpa ada penyelesaian. Mereka mengakui,
aksi buruh ini akan sangat memengaruhi kondisi investasi di Indonesia.

Khawatir tiga hal

Kalangan pengusaha pun mengkhawatirkan tiga hal. Pertama,
ketidakpastian hukum. Kedua, kenaikan upah minimum tidak sesuai
mekanisme pengupahan yang ada. Ketiga, penegakan hukum atas perusakan,
intimidasi, dan penyanderaan terhadap karyawan dan manajemen pabrik.

Ribuan buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI),
Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), dan Konfederasi
Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) pimpinan Andi Gani Nena Wea
bergabung dalam Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI). Mereka berunjuk
rasa di sejumlah kawasan industri di Jawa Barat dan Banten menuntut
penghapusan pekerja alih daya (outsourcing), penetapan upah minimum
sesuai angka kebutuhan hidup layak, dan iuran jaminan kesehatan pekerja
ditanggung pemberi kerja.

Harijanto menjamin pabrik- pabrik sepatu yang berorientasi ekspor tidak
menggunakan pekerja alih daya sesuai dengan persyaratan pemilik merek
yang memesan.

”Hal-hal yang menyangkut pemenuhan hak pekerja sangat diperhatikan
dalam kontrak kerja dan mereka selalu mengirim orang untuk mengecek
langsung ke pabrik-pabrik untuk memastikan berjalan,” kata Harijanto.

Upah pekerja

Menurut data Aprisindo, upah pekerja sepatu di Indonesia saat ini 1,03
dollar AS (Rp 9.888) per jam. Adapun upah pekerja di China 0,91 dollar
AS (Rp 8.736) per jam, Vietnam 0,46 dollar AS (Rp 4.416) per jam, dan
Kamboja 0,29 dollar AS (Rp 2.784) per jam.

Secara umum, upah pekerja pabrik sepatu di Tangerang, Banten, untuk 40
jam kerja seminggu kini rata-rata 179 dollar AS (Rp 1,71 juta) per
bulan. Pekerja pabrik sepatu dengan 40 jam kerja seminggu di Qingyuan,
China, menerima upah 159 dollar AS (Rp 1,52 juta) per bulan dan pekerja
di Ho Chi Minh, Vietnam, menerima 95 dollar AS (Rp 912.000) per bulan.

”Upah pekerja kita sudah tidak murah lagi karena, dari sisi
produktivitas, pekerja China bisa menghasilkan sepatu dua kali lebih
banyak dari di Indonesia. Kami minta pemerintah tidak berlebihan
menetapkan kenaikan upah minimum karena biaya buruh sepatu kini sudah 25
persen dengan margin 5 persen. Sisanya 60 persen bahan baku dan 10
persen lagi biaya overhead,” kata Harijanto.

Kondisi ini membuat pengusaha sepatu resah karena ribuan buruh tetap
mendatangi pabrik mereka dan memaksa pekerja ikut berunjuk rasa. Pabrik
Harijanto yang mempekerjakan 10.000 orang saja dua kali berhenti
berproduksi karena unjuk rasa itu.

Satu pabrik yang mempekerjakan 80.000 pekerja pun tidak luput dari aksi
tersebut. Pabrik berhenti produksi akibat sedikitnya 6.000 anggota
serikat buruh memaksa masuk ke pabrik.

Sofjan menegaskan, dia sudah mengumpulkan sedikitnya 200 pengusaha dari
berbagai kawasan industri di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Para
pengusaha mengeluhkan aksi buruh yang memblokade pabrik dan menyandera
pekerja.

Menurut sejumlah pengusaha, pengunjuk rasa melarang buruh hamil dan
buruh yang menyusui bayi keluar dari pabrik. Mereka menyesalkan sikap
aparat kepolisian yang membiarkan saja hal ini terjadi.

Hal ini membuat penduduk di sekitar pabrik bersama sejumlah kepala desa
dalam Masyarakat Bekasi Bergerak di Kabupaten Bekasi menyerang anggota
serikat buruh untuk membubarkan aksi blokade pabrik-pabrik. Aksi yang
dituding buruh dibiayai pengusaha ini dikhawatirkan memicu konflik
horizontal.

Presiden KSPI Said Iqbal, yang juga Presidium MPBI, mengatakan, ada
satu laporan mengenai buruh perempuan hamil yang tidak bisa keluar di PT
JST di kawasan industri MM2100, Cibitung, Bekasi. Menurut Iqbal,
pengunjuk rasa justru sudah membiarkan buruh perempuan pulang, tetapi
manajemen mengunci pabrik dari dalam karena takut massa masuk.

Iqbal mengaku belum pernah menerima laporan ada penggerebekan pabrik
yang tidak menggunakan pekerja alih daya atau kontrak waktu tertentu
melanggar undang-undang. Hal ini terjadi seperti di pabrik Samsung dan
pabrik tekstil di Bekasi, serta pabrik Bata di Purwakarta.

Iqbal mencontohkan, pekerja pabrik sepatu Bata berstatus kontrak dengan
perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) melebihi ketentuan. ”Ada
pekerja yang berstatus PKWT sampai enam tahun,” ujar Iqbal.

Akibat pemblokadean pabrik, manajemen Bata menutup pabrik. Manajemen
akan mengumumkan rencana mereka selanjutnya pada Jumat (2/11), apakah
kembali bekerja atau tutup tanpa batas waktu.

Industri padat karya

Sikap pemerintah dan polisi dalam menghadapi tekanan massa sangat
mengecewakan pengusaha. Pabrik sepatu termasuk industri padat karya yang
mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Setiap investasi satu pabrik sepatu bernilai 100 juta dollar AS (Rp 960
miliar), bisa menyerap sedikitnya 10.000 pekerja langsung dan 40.000
pekerja tidak langsung.

Harijanto mengatakan, industri sepatu merek global baru pulih dalam dua
tahun terakhir setelah terganggu beberapa kasus investor kabur tahun
2005-2006. Indonesia pun kini masuk tiga besar produsen sepatu merek
terkenal dunia bersama Vietnam dan China.

Industri sepatu tersebut mempekerjakan sedikitnya 500.000 orang.
”Industri sepatu hanya memiliki waktu lima minggu sejak menerima
pesanan sampai pemesan menerima barang tersebut. Gangguan produksi
sehari saja sudah sangat mengganggu dan akhirnya selisih keuntungan yang
ada habis untuk biaya mengirim barang menggunakan pesawat supaya tidak
terkena penalti,” kata Anton.(HAM/DEN/ETA/CAS/PPG)

Utamakan Dialog – Polisi Minta Dilibatkan dalam Pertemuan Tripartit

14 Sep

Jumat, 14 September 2012

Jakarta, Kompas – Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa meminta
buruh dan pengusaha mengutamakan dialog dalam mencari solusi tenaga
kerja alih daya (outsourcing). Mogok memang dibenarkan secara hukum,
tetapi tetap akan menimbulkan kerugian bagi semua pihak.

”Dengan mogok, perusahaan rugi, karyawan tidak kerja, dan secara
nasional kita rugi. Maka, tidak boleh tidak ada dialog. Saya yakin tidak
ada soal yang tidak bisa diselesaikan secara dialog di negara ini,”
kata Hatta Rajasa, Kamis (13/9), di halaman Istana Negara, Jakarta.

Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
Mudhofir, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Andi
Gani Nena Wea, dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Said
Iqbal memaparkan rencana mogok kerja nasional. Mogok akan dilakukan
antara 25 September-15 Oktober 2012 yang melibatkan buruh di sedikitnya
41 kawasan industri.  Continue reading

Sofjan, Pengusaha Aktivis dan Nasionalis

6 Mar

Sumber: Kompas Cetak (Minggu, 06 Maret 2011)

Pengusaha Sofjan Wanandi (kiri), dalam ulang tahun ke-70, menyerahkan buku Sofjan Wanandi: Aktivis Sejati kepada Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama di Jakarta, Sabtu (5/3) malam. Buku yang memuat tulisan banyak tokoh tentang Sofjan Wanandi itu disunting oleh Abun Sanda dan timnya.

Jakarta, Kompas - Pengusaha Sofjan Wanandi, yang kini lebih dikenal dengan kiprahnya sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, merayakan ulang tahun ke-70 pada Sabtu (5/3) malam. Perayaan itu juga ditandai dengan peluncuran buku Sofjan Wanandi: Aktivis Sejati, yang diterbitkan Kelompok Kompas Gramedia.

”Saya berterima kasih atas dukungan banyak teman dan sahabat atas kiprah saya selama ini. Terkadang, saya ingin beristirahat karena merasa sudah tua. Namun, teman-teman terus mendorong saya untuk mengerjakan banyak hal,” kata Sofjan Wanandi, Sabtu, dalam perayaan ulang tahunnya di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta.  Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 40 other followers

%d bloggers like this: