Kemiskinan dan Pengangguran

30 Jul

Kompas – Sabtu, 28 Juli 2012

Kemiskinan adalah malapetaka sosial-kultural. Memang mengenaskan,
mengapa di Tanah Air kaya raya rakyatnya miskin.

Almarhum Hartojo Wignjowijoto, ekonom jebolan Harvard, sering melempar
cemohan ”there are three kinds of lies: lies, damned lies, and
statistics”—ada tiga macam kebohongan: bohong, serba bohong, dan
statistik. Kecurigaan atau kesalahpahaman menafsir angka-angka statistik
adalah kasus klasik, sebagaimana ditulis Haff, How to Lie with
Statistics (1954).

Di Indonesia, tingkat kemiskinan rata-rata nasional menurun, dari 13,3
persen (2010) menjadi 12,5 persen (2011). Penurunan jumlah penduduk
miskin berlanjut tipis, dari 12,59 persen (Maret 2011) menjadi 12,36
persen (September 2011). 

Provinsi-provinsi dengan angka kemiskinan sekitar separuh di bawah
rata-rata nasional (September 2011) adalah DKI Jakarta 3,64 persen, Bali
4,59 persen, Bangka Belitung 5,16 persen, Kalimantan Selatan 5,35
persen, Banten 6,26 persen, Kalimantan Timur 6,63 persen. Semua menurun
sangat tipis dibanding angka Maret 2011, kecuali Kalimantan Selatan.

Sebaliknya, provinsi-provinsi yang angka kemiskinannya lebih dari dua
kali lipat rata-rata nasional (September 2011) adalah Papua 31,24
persen, Papua Barat 28,53 persen dan yang lebih dari satu setengah kali
lipat rata-rata nasional adalah Maluku 22,45 persen, Nusa Tenggara Timur
20,48 persen, Nusa Tenggara Barat 19,67 persen, dan Aceh 19,48 persen.
Tingkat kemiskinan ekstrem provinsi-provinsi ”tertinggal” ini
menurun tipis dibanding angka-angka Maret 2011. Angka kemiskinan yang
terus menurun tipis ini perlu kita hargai, meskipun persepsi masyarakat
sering sebaliknya.

Pengangguran juga menurun dari 6,8 persen (2011) menjadi 6,32 persen
(2012) menurun sebanyak 420.000 orang. Ini tidak berarti, andaikata tiap
tahun dapat diciptakan 420.000 lapangan kerja, dalam 18 tahun terwujud
angkatan kerja tanpa penganggur. Namun, Ketua Umum Kadin menegaskan
sebaliknya, akibat kesenjangan antara angkatan kerja dan lapangan kerja,
pengangguran justru meningkat 1,3 juta orang, pengangguran mencapai 9
juta orang.

Siapa termasuk orang miskin? Bank Dunia menetapkan ”kemiskinan
absolut” bila pendapatan per kapita di bawah 1 dollar AS per hari (Rp
280.000/bulan) dan ”kemiskinan menengah” 2 dollar AS/hari. Sementara
Indonesia menetapkan garis kemiskinan per kapita dengan angka tunggal Rp
243.729/bulan. Lalu apakah seseorang ”tidak miskin absolut” bila
pendapatannya Rp 250.000/bulan?

Garis kemiskinan adalah garis yang ditetapkan berdasarkan berbagai
variabel, antara lain asupan kalori (2.000-2.500 kalori, angka Sajogyo).
Suatu garis batas memang harus ditarik, seperti passing grade untuk
meluluskan peserta ujian.

Kemiskinan ekonomi dan harkat

Miskin bukan lagi persoalan keberadaan pada garis atau di bawah garis
kemiskinan yang dibuat ekonom dan statistikus konvensional. Seorang
dosen bisa ”termasuk miskin” meskipun gajinya Rp 2,4 juta, ia
keluarkan untuk pekerja rumah tangga (PRT) Rp 750.000, listrik Rp
500.000, iuran RT/RW Rp 200.000, cicilan laptop, pulsa, dan
tetek-bengek.

Seseorang terpojok miskin tatkala ia melihat iklan-iklan di televisi
menayangkan kemewahan yang tidak terjangkau daya belinya. Gebyar-gebyar
kemewahan mengepung kemiskinannya, yang menjadikan nestapa dalam
keperihan hati.

Pegawai-pegawai negeri dan swasta pun menjadi miskin oleh iklan-iklan
rumah dan apartemen mewah metropolitan yang menggugah kecemburuan sosial
dan menumbuhkan ”minderisasi” (inferiorization), sementara cicilan
rumah sederhana mereka menjadi beban berkepanjangan.

Capek menunggu bisa berujung pada apatisme kepasrahan atau sebaliknya
malah membangkitkan protes brutal. Sikap beringas yang bangkit bisa
menjadi awal disintegrasi sosial yang menakutkan.

Tragedi Markiah adalah contoh apatisme kepasrahan, fenomena
self-disempowerment, pelumpuhan diri mengerikan yang melanda keluarga
miskin ini. Janda tiga anak ini mengalami capek miskin berkepanjangan,
tanpa harapan melihat cahaya di ujung kegelapan. Kemiskinan mendorongnya
bunuh diri, terjun ke Sungai Cisadane sambil menggendong anaknya yang
masih balita, meninggalkan dua anaknya menjadi yatim piatu.

Lalu, di mana peran RT dan RW, lurah dan camat, masjid, serta
rumah-rumah ibadah. Di mana kebersamaan, solidaritas, dan ukhuwah agama?
Di mana keberadaan institusi-institusi sosial dan negara tatkala
anak-anak gawat gizi dan lumpuh layu, tatkala penduduk idiot (imbecile)
tersebar di tiga kecamatan dalam empat desa di eks Karesidenan Madiun?

Pemberdayaan kilat

Kemiskinan dan pengangguran tidak seharusnya diatasi dengan semata-mata
menunggu trickle-down effect atau kepyuran ke bawah dari investor besar.
Merupakan kejahatan moral menganggap orang miskin hanya berhak atas
rembesan. Memburuknya indeks Gini dari 38 persen (2010) menjadi 41
persen (2011) adalah peningkatan kesenjangan kaya-miskin yang
mencemaskan. Paradigmatik kebijakan menggenjot pertumbuhan bukanlah
jaminan terberantasnya kemiskinan dan pengangguran. Diperlukan pemikiran
cerdas ekstraordiner-kontemporer, meninggalkan konvensionalisme. Direct
attack on poverty—pemberdayaan kilat di pos-pos daya meningkatkan
kemampuan produktif, terampil mencipta atau menyambut pekerjaan menjadi
pilihan.

Pembangunan dengan semangat pasar bebas dan perdagangan bebas yang
memiskinkan kehidupan dan melumpuhkan semangat hidup rakyat harus
distop. Sesuai paham strukturalisme ekonomi nasional kita harus banting
setir beralih ke pemikiran: let us take care of employment, employment
will take care of growth, tegas melaksanakan tujuan konstitusi:
”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan”. Statistika dan model-model ekonometri yang
masih menimang-nimang paradigma-paradigma usang, yang tak sesuai dengan
humanisme ekonomi konstitusi kita perlu diakhiri. Kemiskinan adalah
masalah bersama, mari bekerja keras, ikut mengentaskan masyarakat miskin
ekstrem di Papua, Maluku, NTT, dan NTB. (Sri-Edi Swasono, Guru Besar UI
dan Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa)

About these ads

2 Responses to “Kemiskinan dan Pengangguran”

  1. armstrong indonesia December 3, 2012 at 2:47 pm #

    kemiskinan dan penganguran adalah masalah besar bagi negara ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 40 other followers

%d bloggers like this: