Marsinah FM : Suara Buruh Perempuan

15 May

Sumber: Radio Netherlands

Ada 70 ribu buruh perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cakung, Jakarta Utara. Lebih banyak ketimbang buruh lelaki. Buruh-buruh perempuan itu menghadapi persoalan umum, yaitu minimnya hak normatif seperti upah lembur, cuti haid dan cuti melahirkan.

Untuk memperjuangkan hak tersebut, buruh perempuan yang tergabung dalam Forum Buruh Lintas Pabrik (FBLP) membangun radio komunitas. Radio ini diberi nama Marsinah, dari nama seorang pejuang buruh perempuan yang tewas akibat kekerasan rezim Orde Baru, sembilan tahun lalu.

Reporter KBR68H Damar Fery Ardiyan menengok siara Radio Marsinah FM, yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Kartini akhir pekan lalu.

Buruh perempuan
Ari Widiastari adalah buruh perempuan di Kawasan Berikat Nusantara. Dari pabrik, Ari bergegas menuju sekretariat FBLP di Semper, Jakarta Utara. Hanya butuh 10 menit ia memacu sepeda motornya. Di sana, Ari akan bersiaran.

Tiba di kantor FBLP, Ari segera bergabung dengan sejumlah buruh perempuan yang sedang rapat. Mereka membahas persiapan acara peluncuran Radio Marsinah. Usai rapat, Ari menuju ke ruang studio yang berukuran sekitar 4×4 meter.

Di dalamnya terdapat perlengkapan siaran, dari mulai computer, mixer enam channel, dua microphone, dan dua buah headphone.

Baru satu bulan Ari menjadi penyiar di Radio Marsinah. Di udara, dia disapa Dias. Dari nama belakangnya, Widiastari. Lelah kerja lebih delapan jam sehari hilang saat Ari mengisi gelombang siar radio komunitas Marsinah, di 106 FM.

Lembur tidak dibayar
Seorang buruh lainnya Titin Wartini menjelaskan masalah lembur tidak dibayar, atau dikenal dengan istilah skorsing. “Kita bekerja dari pukul 7.30 pagi dan pulang 15.30. Itu sudah seharusnya (dilemburkan, Red.). Tetapi kenyataan tidak begitu. Memang absen jam 4. Kami pulang sampai mendapatkan target. Itu salah. Seharusnya kami itu dimasukannya lembur, bukan dimasukannya lembur tidak dibayar.”

Ketua Forum Buruh Lintas Pabrik Jumisih mengatakan, pelanggaran jam kerja ini bisa terjadi setiap hari.

“Pelanggaran jam kerja itu parah di KBN. Di UU 13 itu sudah ada peraturan bahwa satu minggu itu adalah 40 jam kerja seminggu. Tetapi di sini itu tidak. Itu dilanggar setiap harinya. Sehari yang seharusnya dia berkerja delapan jam, dia bekerja 9 jam, 10 jam. Tetapi kelebihan jam kerja dari 8 jam ke 9 atau 10 jam itu tidak dihitung sebagai lembur. Tetapi itu disebut skor atau sanksi karena si buruh tidak mendapatkan target. Ini normatif sekali, di Bekasi jarang ada isu seperti ini. Ini marak dilakukan pengusaha di sini.”

Hak-hak normatif
Selain pelanggaran jam kerja, masalah umum lain yang terjadi adalah minimnya hak-hak normatif, seperti cuti hamil dan melahirkan. Berangkat dari keadaan-keadaan itu, Radio Marsinah mencoba memberikan ruang dan informasi bagi buruh perempuan. Penanggungjawab Radio Marsinah, Dian Septi Trisnanti.

“Karena diskusi tentang kesetaraan gender itu belum membumi. Dia masih di balik kampus. Perempuan akar rumput tidak mengerti apa gender itu? Ini yang harus ditransfer, sehingga mereka mengerti. Kalau mereka sudah punya kesadaran mereka akan bertindak. Ini adalah pusat informasi dan pengetahuan untuk teman-teman buruh perempuan supaya menyadari hak sebagai buruh, menyadari hak mereka sebagai perempuan.”

Radio buruh perempuan ini mencoba membangun kesadaran dan membuka ruang informasi lewat beberapa program siaran, lanjut Dian. “Ada rubrik pagi, kemudian sore itu dunia luas, informasi tentang hak buruh perempuan. Ada talkshow. Talkshow sendiri ada lima, ada tentang hak dan hukum, union, cermin, ada rubrik inbox sms, ada rubrik rumah.”

Talkshow hak dan hukum siar setiap Jumat pukul 8 malam. Menurut Dian, talkshow ini ingin memberikan perspektif lain tentang isu yang sedang muncul di media arus utama. Misalnya, soal aksi-aksi buruh saat menolak kenaikan harga BBM.

Program-program acara Radio Marsinah tidak setiap waktu hadir dalam ruang dengar. Kata Dian, siaran radio ini hanya di pagi dan sore hari, usai buruh menuntaskan pekerjaannya di pabrik. Di luar itu, kosong.

Meski sudah bersiaran selama hampir dua bulan, Dian mengaku masih kesulitan untuk menjaring pendengar. Kata dia, pendengar Marsinah baru tercatat sekitar belasan orang saja.

Hari Kartini
Radio Marsinah meresmikan keberadaannya 21 April lalu, bertepatan dengan Hari Kartini. Walaupun sudah meresmikan keberadaannya, Radio Marsinah belum bisa mendapatkan hak gelombang siar sebagai radio komunitas.

Jatah frekuensi untuk radio komunitas dikuasai oleh Radio Jakarta Islamic Center (JIC), kata Penanggung Jawab Radio Marsinah Dian Septi Trisnanti.

“107,7 FM sampai 107,9 FM itu jalurnya komunitas. Tetapi dalam sebulan ini kita masih 106 FM, 106 FM itu kan punya komersil. Untuk sementara kita masih pakai itu. Karena 107,7 FM sampai 107,9 FM itu habis oleh Islamic Center, dia 3000 watt dan komersil dia. Kita akan mengurus perijinan, masih dalam proses.”

Jangkauan siar radio JIC bisa mencapai Bogor, Bekasi, hingga Karawang. Padahal, PP nomor 51 Tahun 2005 secara tegas membatasi jangkauan siar radio komunitas, hanya sejauh 2,5 kilometer dengan kekuatan maksimal 50 watt.

Terkait masalah ini, Dian mengaku sudah menanyakan soal ini kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah KPID Jakarta. Namun menurut Dian, KPID tidak bisa berbuat banyak atas penggunaan gelombang komunitas ini oleh JIC.

Mari bangkit
Masalah itu tidak menyurutkan langkah mereka. Titin Wartini mengajak buruh perempuan lain di KBN Cakung untuk terlibat dalam gerakan buruh melalui radio ini.

“Saya pribadi hanya mengetahui perempuan itu tidak jauh-jauh banget dari dapur, sumur lantas naik ke kasur. Tetapi setelah mengenal Marsinah FM ini tidak lagi. Kawan-kawan buruh perempuan itu berhak tahu dan harus tahu dan yang paling penting adalah berani melawan disetiap ada penindasan. Kita memang mau bekerja, tetapi kita tidak mau ditindas. Karena kerja ada aturannya tersendiri. Seperti itu yang selalu ditekankan di radio Marsinah FM ini, buruh perempuan mari bangkit jangan pernah takut.”

Kaki sudah dilangkahkan, suara sudah dipancarkan. Radio Marsinah FM siap menjadi media perjuangan bagi buruh perempuan. Penanggung Jawab Radio Marsinah Dian Septi Trisnanti.

“KBN Cakung itu 90% adalah perempuan. Di dalam serikat buruh mayoritas, perempuan itu jarang menempati posisi pimpinan strategis. Kalau tidak ada perjuangan untuk meningkatkan kapasitas perempuan, untuk memberdayakan perempuan, untuk mendorong perempuan maju sebagai pimpinan, mengurangi hambatannya sebagai perempuan untuk bisa memimpin. Hambatan besar, hambatan keluarga, pekerjaan domestik-anak. Kita mendorong perempuan untuk maju.”

Radio buruh MARSINAH, dari Perempuan Buruh untuk kesejahteraan dan kesetaraan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 40 other followers

%d bloggers like this: